Apa Itu Impian?

Tags

, , , , ,


Impian atau dream lebih kita kenal dengan istilah cita-cita. Cita-cita cenderung ke profesi pekerjaan. Impian, dream, cita-cita merupakan segala bentuk harapan dan keinginan kita. Baik itu berupa pekerjaan/profesi, atau materil, atau yang abstrak sekalipun.

Pernah ada yang bilang kepada saya, “Aih, lu ngomongin dream, impian, kayak orang MLM aja, deh!”
Saya hanya meresponnya dengan senyuman. Saya paham bahwa pernyataan itu menunjukkan bahwa pikirannya sudah masuk ke ruang sempit dan terjebak di antara pikiran dan perasaan yang negatif terhadap MLM.

Memang benar, impian dan dream itu cenderung dibicarakan oleh para pelaku bisnis MLM. Itu memotivasi mereka. Oleh karena itu, banyak di antara mereka yang berhasil di MLM, bahkan juga di profesi dan bisnis konvensional mereka. Yang tidak berhasil biasanya mereka yang tidak tekun, buru-buru berhenti, dan impiannya tidak kuat.

Maria Nofaola, M.Psi., Psikolog pernah melakukan riset kecil terhadap siswa SMP di tahun 2008. Dia pernah bertanya, “Apa impian kamu?”, kepada anak-anak SMP. Respon mereka, langsung melihat teman ke kiri dan ke kanan, seperti kebingungan. Lalu, dia betanya lagi, “Cita-cita kamu apa?”. Mereka tetap masih bingung, meski beberapa menjawab dengan menyebutkan nama-nama profesi, seperti guru, polisi, pedagang. Itu pun hanya beberapa orang saja yang dapat menyebutnya dengan mantab. Akhirnya, rasa keprihatinannya terhadap generasi muda ini mendorong saya memberikan pelatihan mental tentang impian dan cita-cita. Dia tahu bahwa tugas ini tidak ringan. Dia harus membuka pikiran anak-anak SMP bahwa mereka butuh impian dan cita-cita supaya mereka punya arah hidup. Setelah lulus sekolah mau apa. Kalau ingin jadi A, B, atau C, apa yang harus mereka lakukan. Jika mau menjadi dokter, pelajaran apa yang harus ditekuni.

Kita memang tidak terbiasa dengan dengan istilah impian. Bahkan beberapa orang mengartikan dream sebagai mimpi. Ya, jika diterjemahkan dari segi bahasa artinya memang mimpi. Namun, maknanya jauh lebih dalam dari yang dibayangkan orang.

Menurut ilmu psikologi, dream atau mimpi itu sendiri merupakan harapan-harapan atau keinginan-keinginan yang tersimpan ke alam bawah sadar manusia.

Cobalah mengenal makna impian lebih dalam. Mari kita kenalkan impian ke anak-anak kita. Supaya, mereka terbiasa menjalani kehidupan mereka secara terarah. Terarah bukan berarti kaku hanya di jalur yand sudah dibuat, ya. Tapi, kita juga ajarkan mereka untuk bersikap fleksibel.

Mari meniru Hyvon Ngetich yang mencapai garis finish dengan cara merangkak. Dia terjatuh karena kondisi gula darah yang menurun. Dia menolak kursi roda yang disiapkan untuknya. Itulah salah satu contoh orang yang memiliki impian.

Hyvon-Ngetich-Reprodução-TV

Videonya dapat dilihat di link berikut ini. Klik disini.

Semoga informasi ini bermanfaat.

Sumber: www.pekerjaparttimeprofesional.biz
Silakan baca juga weblog Rawat Diri yang mengulas seputar perawatan tubuh.

“Help people completely”, Kata si Gadis Kecil Korea

Tags

, , ,


Tiba-tiba tersingkap sepenggal kisah di balik memori perjalanan pulang dari Singapura ke tanah air, Indonesia.

Setelah satu bulan menjadi single fighter-backpacker menjelajahi enam negara di Asia Tenggara, wajar kalau bawaan bertambah, bukan? Awalnya hanya membawa ransel ukuran 55 liter yang masih terlihat longgar di beberapa sudut. Akhirnya, jadi semakin padat montok berisi, ditambah lagi jinjingan 7 kg yang isinya cendramata dari beberapa negara.

Ya, kisah ini terjadi di Singapura. Saat itu saya berjalan kaki dari penginapan ke stasiun kereta. Jaraknya tidak jauh, tapi lumayan bikin kaki dan punggung terasa pegal. Apalagi sambil membawa beban berat di punggung dan tangan. Saya berjalan sambil beberapa kali memindahkan jinjingan itu dari tangan kanan ke kiri, kiri ke kanan.

Tiba-tiba terdengar sapaan dari belakang, “May I help you, Miss?”.
Dia seorang gadis kecil berkulit kuning langsat dan bermata sipit.

“Are you sure? It’s heavy” saya meragu.

Dengat gesit dia meraih jinjingan, “Yes, I am sure. That’s ok”, jawabnya.

Saya merasa terbantu. Beban saya berkurang. Namun, saya jadi merasa tidak nyaman melihat gadis kecil itu. Dia memegang tali tas jinjingan dengan kedua tangannya dan meletakkan jinjingan itu di pundaknya. Ukuran tas dengan berat 7 kilo itu kurang pas untuk tubuhnya, saya perkirakan. Saat saya berusaha mengambil tas itu kembali, dia menolak. Kami sempat berdebat kecil. Namun, jawabannya sungguh membuat saya tidak bisa berkata-kata.

My dad told me, ‘If you help people, you have to help them completely’. So, let me help you completely until we reach the station, Miss

Mendengar kata-katanya, saya pun memberi kesempatan itu untuknya. Entahlah tindakan saya itu benar atau keliru. Sekitar 5 menit berjalan menuju stasiun kereta, kami berbincang-bincang kecil. Ternyata dia berasal dari Korea, usianya saat itu (maaf, saya agak lupa) antara 9-11 tahun. Orang tuanya bekerja di Singapura sudah beberapa tahun. Saat itu dia menuju stasiun kereta hendak pergi membeli barang di toko yang ada di dekat stasiun kereta.

Perpisahan pun terjadi setelah kami tahu bahwa kami akan menuju arah yang berbeda. Dia pun melepaskan jinjingan itu. Wajah polosnya seakan-akan berteriak, “Yay, I’m free!” karena lepas dari pikulan yang berat.

“Thank you…you are so kind. Take care and see you, sweet girl”.

Saya menatapnya dengan penuh rasa kagun dan haru. Saya memuji-muji dalam hati. Rasa kagum itu masih terbawa hingga sekarang.

Kisah itu singkat, pesannya sederhana, namun maknanya sungguh berarti buat saya.
Siapa nama gadis kecil itu?
Dimana dia berada?
Seperti apa dia sekarang?
Mungkin dia telah menjadi seorang remaja cantik, cerdas, dan bijaksana.

Sungguh, pesan sederhana itu bisa menjadi pengingat buat kita semua supaya menolong orang lain utuh, sepenuh hati, “completely”. Bisakah kamu membayangkan wajah dunia di masa depan jika anak-anak diajarkan bersikap sedemikian indahnya?

***

Maria Nofaola
Kenangan bermakna di penghujung perjalanan Oktober 2011.

Gallery

Pendidikan Tinggi, Ujung-Ujungnya Jadi IRT Juga

Tags

, , , , , , , ,


Pendidikan tinggi, ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga juga Pernahkah kamu disindir dengan kalimat seperti ini? Atau, mungkin kamu yang justru …

Continue reading

Memakai Baju Mantan. Boleh kah?

Tags

, , ,


Pernahkah kamu memakai baju mantan pacar kamu? Tentu saja jenis baju yang umum, ya, seperti kaos oblong atau kemeja. Kalau cowok menggunakan blus mantannya, wah, ini akan jadi persoalan baru lagi.

Saya tidak dapat mengatakan bahwa hal ini baik atau buruk. Semua tergantung pada cara kamu menyikapi baju itu, menyikapi relasi yang terjadi, dan bagaimana perasaanmu. Jika kamu merasa nyaman dengan menggunakan baju itu, silakan saja. Namun, kalau kamu merasa sedih dan jadi sulit melepaskan kepergian mantan kamu, kamu akan semakin sulit move on. Apabila perasaan sedih itu muncul kembali, ada baiknya kamu membuat jarak dengan baju itu. Cobalah tenangkan dirimu dahulu. Redakan rasa sedih itu agar kamu tidak masuk ke arah depresi. Situasi ini tidak baik untuk kesehatanmu. Jika kondisi seperti itu berlangsung dalam jangka waktu lama, masih sedih dan tidak nyaman pasca berpisah meski sudah bertahun-tahun, sebaiknya kamu berkonsultasi ke psikolog secara langsung, ya. Nanti kamu akan dibantu  agar dapat move on. Kamu perlu seorang psikolog untuk melepaskan dirimu dari kondisi terpuruk itu. Kamu perlu keluar dari lingkaran rasa sedihmu.

Image

Ketika Anak Membicarakan Organ Intimnya

Tags

, , ,


Ada kalanya anak-anak menyentuh, menyebut, dan membicarakan organ seksual mereka. Orang dewasa yang mengetahuinya cenderung akan bereaksi, “Jangan pegang-pegang! Malu” atau “Psst, jangan ngomong begitu… dosa!” atau “Anak kecil tidak boleh menyebut-nyebut itu!” dan banyak larangan lainnya. Hingga pada akhirnya, anak-anak pun jadi takut menyebut atau membicarakannya. Bagian organ intim atau kelamin adalah sesuatu yang tabu, hal yang tidak boleh atau tidak perlu dibicarakan.

Nah, menyikapi situasi dimana kita sering mendengar kasus pelecehan sesual pada anak-anak, tentu kita jadi khawatir. Apa yang dapat kita lakukan pada anak-anak kita?

Marilah membuka hati dan pikiran kita beberapa inci agar anak-anak merasa nyaman menceritakan apa yang mereka alami (terkait organ intim mereka).

Ketika anak-anak mulai menyebut atau membicarakannya, berilah sedikit perhatian dengan bertanya, “Ada apa dengan ….”, “Oh, sakitnya seperti apa… mas/mba tadi jatuh?”, “Siapa yang pegang…”, “Bagian mana yang dipegang?”, “Pegang apa?”, “Siapa yang menyuruh memegang?”, “

Beri kesempatan pada anak untuk jujur dengan orang tua mereka. Dari situ kita bisa melatih mereka untuk MENOLAK apabila ada orang lain yang hendak menyentuh bagian intim mereka. Misalnya dengan cara mengatakan:
“Lain kali jangan pegang-pegang punya teman, ya”.
“Kalau ada yang mau menyentuh bagian …. mas/mba jangan mau, ya. Mas/Mba langsung lari dan lapor ke Ibu Guru dan mama/papa”.
“Kalau ada yang nakal dan pegang punya mas/mba, beritahu mama dan papa, ya”.
“Ingat-ingat, kalau ada yang mau pegang-pegang… langsung pergi saja, ya. Kalau ada yang memaksa, boleh berteriak panggil Ibu Guru”.

Demikian, semoga informasi sederhana ini dapat menenangkan hati para Ayah dan Bunda sekalian.

 

Memeriksa Gangguan Mental Dalam 2 Menit, Mungkinkah?

Tags

, , , , , ,


Banyak orang bertanya-tanya, bagaimana seorang psikiater atau psikolog klinis dapat mendiagnosa seseorang dalam hitungan 2 menit. Apakah bisa? Apakah benar? Apakah sesuai prosedur? Apakah tepat? Lalu, bagaimana caranya? Jawaban dari semua pertanyaan itu adalah “Ya, bisa, benar, tepat, dan harus sesuai prosedur”. Perlu Anda ketahui bahwa pemeriksaan itu butuh jam terbang, latihan, dan kepekaan.

Sesungguhnya, seorang psikiater dan psikolog klinis, mulai “memeriksa” pasien/kliennya sejak pertama kali si klien memasuki ruangan.  Mereka akan menggunakan segenap panca indera yang mereka miliki untuk memeriksa pasien/klien. Mereka akan memperhatikan raut wajah klien, ekspresi, gerak tubuh, langkah, tatapan mata, kebersihan badan, kerapian berbusana, cara bicara, dan juga cara merespon jawaban. Keadaan mental seseorang dapat dilihat dari semua itu. Mereka juga menggunakan indera penciuman untuk mencium bagaimana aroma si pasien/klien, berbau wangi atau tak sedap, masing-masing akan mengarahkan ke diagnosa yang berbeda. Kegiatan yang dilakukan oleh  psikiater dan psikolog klinis itu disebut dengan observasi atau pengamatan.

Kemudian,  psikiater dan psikolog klinis akan melakukan anamnesa, yaitu bertanya ke pasien/klien atau keluarganya. Setelah melakukan observasi atau pengamatan, psikiater dan psikolog klinis akan membangun diagnosa awal di dalam kepalanya. Kemudian, mereka akan mengecek kebenaran analisa sementara itu. Mereka akan bertanya sejalan dengan analisa yang tersimpan di dalam kepala mereka.  Misalnya,  psikiater dan psikolog klinis menangkap bahwa seseorang itu seperti mengalami depresi, maka ia akan bertanya tentang keluhan apa yang dirasakan pasien, bagaimana perasaannya, bagaimana kualitas dan kuantitas tidurnya, bagaimana kualitas pekerjaan atau aktivitas sehari-hari, dsb. Pertanyaan2 itu akan mengarah ke diagnosa tertentu. Apabila  psikiater dan psikolog klinis menangkap bahwa seseorang mengalami gangguan kejiwaan psikotik, maka ia pun akan menanyakan hal2 yang berkaitan dengan gangguan tersebut.

Itulah cara memeriksa gangguan mental tahap awal. Nah, setelah itu…tentu saja akan ada pemeriksaan lanjutan dan mendalam. Tujuannya tentu saja untuk penegakkan diagnosa yang mantab dan menentukan terapi mental yang tepat.

Nah, itulah perihal pemeriksaan gangguan mental 2 menit ( yang sesungguhnya lebih dari 2 menit ). Semoga Anda tidak ragu-ragu lagi dengan hasil pemeriksaan  psikiater dan psikolog klinis di RS.

Keep your chin up! :)

Bingung Memilih Gadged?

Tags

, , , ,


Semakin hari semakin banyak jenis, model, dan merek gadged. Gadged yang saya maksud disini ialah handphone dan tablet. Saya yakin, banyak di antara kamu yang galau karena tidak mampu membuat keputusan yang cepat dalam memilih gadged. Ya, di satu sisi saya sangat setuju bahwa kita tidak boleh buru-buru membeli gadged. KECUALI, kalau finansial kamu golongan menengah ke atas, yang rugi beberapa ratus hingga jutaan rupiah pun tidak mengalami masalah.

Nah, disini saya akan mengulas cara memilih gadged dari sisi psikologi atau mental. Tanpa disadari, faktor psikologis seseorang sangat berperan dalam perilaku membeli sesuatu, khususnya gadged.

Nah, bagaimana sih sebenarnya memilih gadged yang tepat?
* Ukur kemampuan finansial 
Finansial jelas menjadi pertimbangan utama, terutama bila kamu ingin membeli gadged secara tunai (langsung). Jika harga gadged tersebut lebih tinggi dari jumlah nominal uang yang kamu miliki, maka kamu pun perlu mengulur waktu. Kamu perlu menabung lagi.

* Kenali tujuan membeli
Ada berbagai macam alasan dan tujuan membeli gadged, misalnya:
– Merasa kurang gaul dan ketinggalan jaman jika tidak memiliki gadged tertentu.
– Pengin membuktikan bahwa dirinya juga mampu membeli gadged dengan merek dan harga tertentu. Dengan kata lain dia tidak mau kalah dengan orang lain.
– Untuk keperluan tugas sekolah/ pendidikan. Biasanya guru meminta muridnya untuk mencari materi atau hal-hal tertentu di internet.
– Untuk kebutuhan komunikasi, khususnya teman-teman dan saudara yang tinggal jauh dari kita.

Nah, kenali lebih dekat dirimu. Pertimbangkan lagi, apakah kamu ingin membeli gadged karena memang membutuhkannya atau sekedar memuaskan diri; gengsi, harga diri, ingin penampilan yang hebat, atau menunjukkan status saja.

* Kenali kebutuhan
Kebutuhan masing-masing orang tentu berbeda-beda. Ada yang butuh gadged untuk keperluan bisnis atau pekerjaan, ada yang butuh gadged supaya bisa kontak dengan keluarga karena beda negara, ada yang butuh gadged supaya tidak putus komunikasi dengan teman-teman lama, ada yang butuh gadged supaya bisa ngegosip sama teman-teman gengnya atau teman arisan, ada yang butuh gadged supaya mudah baca-baca berita terbaru secara online, keperluan foto-foto untuk dokumenasi perjalanan atau kehidupan sehari-hari, dan ada juga yang butuh gadged sebagai hiburan karena ada permainan, buku digital, atau pun mencari artikel di dunia maya. Kebutuhan-kebutuhan yang saya tulis di atas hanya sebagian kebutuhan orang. Tentu saja, masih banyak kebutuhan orang terkait dengan gadged.

Nah, setelah kamu mengenali kebutuhanmu, tanyakan lagi apakah kamu masih perlu membeli sesuatu yang harganya mahal dan spesifikasi yang luar biasa, tetapi hanya digunakan untuk menelpon, kirim teks atau SMS. Mubatzir atau tidak, sih? Tapi, kalau kamu sangat membutuhkan itu demi harga diri atau gengsi, silakan. Sekali lagi, pilihan itu ada di tanganmu. Namun, jika kita hidup demi gengsi dan harga diri terkait dengan gadged, kita akan sulit menikmati hidup. Kita cenderung semakin menjadi orang yang gelisah dan cemas karena selalu memikirkan kenikmatan duniawi.

Belajarlah bijaksana dalam membeli sesuatu, maka kamu akan menikmati dunia.

* Lihat spesifikasi gadged
Lihat spesifikasinya, artinya sesuaikan dengan kebutuhanmu. Contohnya, kamu butuh berkomunikasi dengan orang tua karena tinggal berjauhan dengan mereka, mungkin kamu butuh gadged yang memiliki kamera depan. Dengan adanya kamera depan, kalian bisa melakukan voice call. Jarak yang jauh pun menjadi terasa semakin dekat.
Contoh selanjutnya, apabila kamu butuh alat dokumentasi karena pekerjaanmu menulis berita. Mungkin saja ada baiknya kamu butuh kamera dengan resolusi tinggi. Kamu pun bisa meliput gambar dan mengirim berita dengan cepat. Selain itu, mungkin kamu butuh gadged yang bisa digunakan untuk menulis berita dan mengirimnya via email. Tentu saja kamu butuh gadged yang biasa disebut smartphone.
Contoh selanjutnya, kalau kamu butuh gadged yang bisa digunakan untuk chat, ya, ponsel pintar dibawah 1 juta Rupiah pun sudah banyak yang memfasilitasi kebutuhan komunikasi itu.

Apakah kamu masih bingung memilih gadged? Jika bingung, berilah waktu bagi dirimu untuk berpikir dan menyeleksi gadged mana yang akan dibeli. Jika sudah dipertimbangkan, dibandingkan, dipikirkan, dan mantab, kamu bisa membeli gadged itu dengan perasaan yang lebih puas dan lega. Selamat membeli gadged.

Chin up! :)

“Break” Mesti Berapa Bulan?

Tags

, , , , ,


Break mesti berapa bulan?

Heh, kamu tanya saya? Kalau menurut saya, kamu dan pasangan lah yang menentukan lamanya break (jeda istirahat dalam pacaran) itu. Kalian yang paling tahu sedalam dan serumit apa permasalahan di antara kalian. Kalian berdua lah yang paling tahu alasan utama untuk break.

Alasan break sangat beragam. Ada yang menjadikan break itu sebagai sarana untuk mengulur-ulur waktu putus karena kamu tidak tega mengatakan kata putus. Ada juga yang ngajak break karena dia plin plan dan tidak tegas dalam membuat keputusan; putus, tapi sayang banget udah pacaran begitu lama; kalau bertahan, kok, rasanya berat sekali. Ada juga yang break karena mencoba untuk mendekati seseorang; kalau tidak diterima, dia tetap pacaran dengan yang lama. Wah, alasan yang ini curang sekali, ya?! Yah, itulah macam-macam alasan kenapa orang break. So, oleh sebab itu durasi break pun akan berbeda.

Meskipun durasi break bisa panjang, bisa juga pendek. Alangkah baiknya kalau break itu tidak bertujuan mengulur-ulur waktu dan membuat waktu seseoran terbuang percuma. Break itu sebaiknya digunakan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat bagi dirimu di masa depan, sungguh digunakan sebagai “jarak” yang memberi ruang gerak bagi dirimu merefleksikan relasi kalian berdua.

Kalau mau break, pikirkan lah terlebih dahulu. Dan, sebaiknya bukan karena disengaja, apalagi sampai merugikan salah satu pihak.

Chin up! :)

Baca juga artikel terkait:
Huh, Aku Merasa Jenuh Dengan Relasi Ini!
Kita Break Dulu, ya?!

Beda Fisik dan Psikologis

Tags

, , ,


Tidak perlu malu untuk menanyakan perbedaan fisik dan psikologis. Justru dengan bertanya, kita akan memahaminya dengan tepat. Nah, untuk memahaminya secara jelas, mari kita telaah satu demi satu.

Psikologis adalah persamaan kata dari psikis, mental, atau jiwa. Kita bisa menggunakan salah satu kata itu kok. Ingat, baca dengan benar,  ya! Jangan lupa satu huruf pun! P-S-I-K-O-L-O-G-I-S. Coba ulangi sekali lagi, P-S-I-K-O-L-O-G-I-S. Mengapa tidak boleh salah ucap dan kurang satu huruf? Karena, kalau lupa satu huruf, artinya akan berbeda. Jika membacanya kurang “S”, menjadi PSIKOLOGI. PSIKOLOGI itu adalah ilmunya, yaitu ilmu yang mempelajari tentang jiwa atau perilaku manusia. Kalau lupa dua huruf, kata itu berubah menjadi PSIKOLOG. Nah, PSIKOLOG itu adalah orangnya alias nama profesi si pelakunya yang menjadi ahli kejiwaan.

Berikut ini adalah penjelasan PSIKOLOGIS atau psikis:
Manusia itu terdiri dari dua bagian, bukan? Yaitu: (1) FISIK dan (2) PSIKIS atau PSIKOLOGIS.
Fisik merupakan kata lain dari raga, tubuh, atau badan. Jadi, segala hal yang bisa kamu tangkap dengan panca indera kita. Termasuk organ dalam tubuh, ya. Sedangkan, psikis atau psikologis itu merupakan hal-hal yang tidak dapat dilihat secara langsung oleh panca indera. Psikis merupakan kata lain dari jiwa, mental, atau psikologis. Contoh psikis ialah perilaku, isi pikiran, alam perasaan, kebiasaan, dan pengetahuan.

Sakit fisik contohnya:
– Sakit kepala
– Sakit perut
– Sakit di bagian dada
– Sakit karena kulit terluka
– Sakit karena keseleo
– Sakit gigi
– Sakit patah tulang
– Sakit karena stroke
– Dan masih banyak sakit pada bagian tubuh lainya.

Kemudian, contoh masalah psikis atau psikologis tadi:
– Sulit tidur
– Selalu cemas dan was was
– Ada perasaan bersalah
– Berpikir ada yang membahayakan jiwanya
– Merasa sedang diintai atau diintip
– Tidak dapat merespon orang lain ketika ditanya
– Dan masih banyak masalah psikis/psikologis lainnya

Apakah fisik dan psikis itu berkaitan?
Ya, dua hal itu akan saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Contoh fisik yang mempengaruhi psikis/psikologis, yaitu; saat kita sakit perut, pasti pikiran kita tidak tenang dan tidak mampu konsentasi belajar, bukan? Lalu, contoh kondisi psikis/psikologis yang mempengaruhi fisik, yaitu; kalau kita ketakutan akan membuat kesalahan melakukan presentasi di depan kelas, kita akan deg-degan, tangan keringat dingin, dan sering kebelet buang air kecil.

Nah, sekarang kamu sudah tahu perbedaan fisik dan psikologis, bukan?

Semoga bermanfaat dan chin up! :)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.